Thursday, September 29, 2011

Infeksi Telinga Dalam


LABIRINTITIS
Labirintitis adalah suatu proses radang yang melibatkan mekanisme telinga dalam, yang terjadi karena penyebaran infeksi ke ruang perilimfa. Otitis media kronik, terutama dengan koleastoma, dapat menimbulkan destruksi labirin vestibulum. Suatu fistula labirin memungkinkan penyebaran infeksi ke telinga dalam, menimbulkan labirintitis yang akan menyebabkan ketulian.
 Terdapat beberapa klasifikasi klinis dan patologik yang berbeda:
1.      Toksik (labirinitis serosa)
Labirinitis toksik akut disebabkan suatu infeksi pada struktur di dekatnya; dapat pada telinga tengah atau meningen. Labirinitis toksik biasanya sembuh dengan gangguan pendengaran dan fungsi vestibular. Hal ini diduga disebabkan oleh produk toksik dari suatu infeksi dan bukan disebabkan oleh organisme hidup. Toksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel radang.
2.      Supuratif
Labirinitis supuratif akut dapat terjadi pada infeksi bakteri akut yang meluas ke dalam struktur-struktur telinga dalam. Sel radang menginvasi labirin, sehingga terjadi keruasakan yang irreversible, seperti fibrosis dan osifikasi.
Labirinitis serosa difus
Etiopatofisiologi
Seringkali terjadi sekunder dari labirinitis sirkumskripta atau dapat terjadi primer pada otitis media akut. Toksin atau bakteri dapat masuk melalui tingkap bulat, tingkap lonjong, atau melalui erosi tulang labirin. Diperkirakan penyebab yang paling sering adalah absorbsi produk bakteri di telinga dan mastoid ke dalam labirin.
Diagnosis
Gejala dan tanda serangan akut adalah vertigo spontan dan nistagmus rotatoar, biasanya ke arah telinga yang sakit. Kadang disertai dengan rasa mual dan muntah, ataksia dan tuli saraf.
Pemeriksaan histologik pada potongan labirin menunjukkan infiltrasi seluler awal dengan eksudat serosa atau serofibrin.
Labirinitis serosa difus yang terjadi sekunder dari labirinitis sirkuskripta mempunyai gejala yang serupa tetapi lebih ringan, karena terjadi kompensasi. Tes fistula akan positif kecuali bila fistulanya tertutup jaringan.
Pada labirinitis serosa ketulian bersifat temporer, biasanya tidak berat. Bila pada labirinitis serosa ketulian menjadi berat atau total, maka mungkin terjadi perubahan menjadi labirinitis supuratif. Bila pendengaran masih tersisa sedikit di sisi yang sakit, berarti tidak terjadi labirinitis supuratif difus.
Tatalaksana
-          Pengobatan pada stadium akut yaitu, pasien harus bed rest total, diberikan sedatif ringan.
-          Pemberian antibiotic yang tepat dan dosis yang adekuat.
-          Drainase telinga tengah dipertahankan. Tidak dapat dibedah.
-          Pada stadium lanjut dari OMA, mungkin diperlukan mastoidektomi sederhana untuk mencegah labirinitis serosa.
-          Timpanomastoidektomi diperlukan bila terdapat kolesteatom dengan fistula.
Prognosis
Prognosis baik, tetapi tuli saraf temporer yang berat dapat menjadi tuli saraf yang permanen bila tidak diobati dengan baik.

Labirinitis supuratif akut difus
Dapat merupakan kelanjutan dari labirinitis serosa yang infeksinya masuk melalui tingkap lonjong atau tingkap bulat. Labirinitis ini terjadi sekunder dari otitis media akut maupun kronik dan mastoiditis. Pada beberapa kasus abses subdural atau meningitis, infeksi dapat menyebar ke dalam labirin dengan atau tanpa terkenanya telinga tengah, sehingga terjadi labirinitis supuratif.
Pathogenesis
Infiltrasi labirin oleh sel-sel leukosit polimorfonuklear dan destruksi struktur jaringan lunak à Sebagian dari tulang labirin nekrosis à terbentuk jaringan granulasi à menutup bagian tulang yang nekrotik tersebut à menyebabkan terbentuknya skuestrum, paresis fasialis, dan penyebaran infeksi ke intracranial.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dari riwayat penyakit, tanda dan gejala labirinitis dengan hilangnya secara total dan permanen fungsi labirin.
Keluhan
-          Mual, muntah, vertigo dan ataksia dapat berat sekali bila awal dari perjalanan labirinitis supuratif tersebut cepat.
-          Terdapat nistagmus horizontal rotatoar yang komponen cepatnya mengarah ke telinga sehat. Dalam beberapa jam pertama, sebelum seluruh fungsi labirin rusak, nistagmus dapat mengarah ke telinga sakit.
-          Selama fase akut, posisi pasien sangat khas. Pasien akan berbaring pada sisi yang sehat dan matanya mengarah pada sisi yang sakit (ke arah komponen lambat nistagmus) à posisi ini akan mengurangi perasaan vertigo.
-          Jika fungsi koklea hancur, akan mengakibatkan tuli saraf total permanen.
-          Suhu badan normal atau mendekati normal, bila terjadi kenaikan mungkin disebabkan oleh otitis media atau mastoiditis.
-          Tidak terdapat rasa nyeri. bila terdapat, mungkin disebabkan oleh lesi lain, bukan oleh labirinitis.
Pemeriksaan fisik
Tes kalori maupun tes rotasi tidak boleh dilakukan selama fase akut, sebab vertigo akan diperhebat.
Periksaan tambahan
-          Pemeriksaan Rontgen telinga tengah, os mastoid, dan os petrosus mungkin menggambarkan sejumlah kelainan yang tidak berhubungan dengan labirin.
-          Bila dicurigai terdapat iritasi meningeal, maka harus dilakukan pemeriksaan cairan spinal.

Tatalaksana
-          Tirah baring total selama fase akut, dapat berlangsung selama 6 minggu
-          Sedative ringan mungkin diperlukan pada periode awal. Fenobarbital 32 mg ( ½ grain) 3x sehari
-          Dosis antibiotika yang adekuat harus diberikan selama satu periode baik untuk mencegah komplikasi intracranial, maupun untuk mengobati labirinitisnya. Antibiotika penissilin harus segera diberikan sebelum hasil tes resistensi didapat, jika alergi penissilin dapat diberikan tetrasiklin, dengan dosis tinggi secara parenteral.
-          Drenase atau membuang sebagian labirin yang rusak, dilakukan bila terdapat komplikasi intracranial dan tidak memberi respons terhadap terapi antibiotika.

Prognosis
-          Labirinitis supuratif akut difus tanpa komplikasi, prognosis ad vitam baik.
-          Dengan antibiotika mutakhir komplikasi meningitis dapat dengan sukses diobati, sehingga harus dicoba terapi mesikamentosa dahulu sebelum tindakan bedah.
-          Bila terjadi gejala dan tanda komplikasi intracranial yang menetap, walaupun telah diberikan terapi adekuat dengan antibiotika, drainase labirin akan memberi prognosis lebih baik daripada bila dilakukan tindakan operasi radikal.


Referensi:
-          Adams GL., Boies LR., Higler PA , 1997, Boies buku ajar penyakit THT, Ed.6 , EGC, Jakarta
-          Soepardi EA, Iskandar HN, editor. 2001, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi kelima. Jakarta: Balai penerbit FKUI

No comments:

Post a Comment